Kisah Asli Lagu Legendaris Bohemian Rhapsody

bohemian rhapsody

Lagu Bohemian Rhapsody kembali ramai diperbincangkan setelah perilisan film dengan judul yang sama pada tahun 2018. Padahal lagu ini sudah dirilis sejak tahun 1975 dan termasuk dalam album A Night at the Opera yang tidak kalah legendaris. Banyak sisi menarik dari Bohemian Rhapsody yang tidak akan pernah henti diperdebatkan oleh fans Queen.

Banyak yang menyebut kalau lagu ini multitafsir. Durasinya juga cukup lama untuk ukuran lagi pada jamannya yaitu hampir 6 menit. Namun justru di sinilah letak poin menariknya. Ada beberapa segmen musik yang dikemas utuh menjadi satu lagu, meliputi ballad, opera, serta rock dan sukses dibawakan dengan apik.

Kisah Lagu Bohemian Rhapsody

1.     Sejarah Lagu

Bohemian Rhapsody ditulis oleh sang vokalis sekaligus sosok paling fenomenal di Queen, Freedy Mercury. Dia menulis pada tahun 1968 ketika masih aktif sebagai mahasiswa di Ealing Art College, London.

Baru pada bulan Agustus 1975, proses rekaman Bohemian Rhapsody dimulai bersama lagu lain di album A Night at the Opera di sebuah studio musik yang berlokasi di Wales. Di awal, lagu ini dianggap tidak komersil dan tidak layak diputar di radio karena durasinya terlalu lama.

Tetapi setelah melalui proses panjang, akhirnya Bohemian Rhapsody bisa diperdengarkan di radio dan justru melebihi ekspetasi yang dibayangkan para personel Queen. Di tahun 1975, selama sembilan minggu berturut-turut lagu ini berada di chart paling atas lagu Inggris.

2.     Makna Lirik

Lagu ini diawali segmen akapela dengan lirik “Is this a real life? Is this just fantasy?” Banyak interpretasi untuk penggalan lirik tersebut. Seakan-akan Freddy Mercury sedang dalam kondisi bimbang tentang apa yang sedang terjadi di hidupnya.

Perasaan tersebut juga tergambarkan dari lirik “I’m just a poor boy, I need no symphaty”. Dia merasa bisa mengatasi masalahnya sendiri dan akan melakukan segala cara untuk menebus kesalahan yang telah dilakukannya.

Di segmen musik ballad, dibuka dengan alunan piano dan lirik “Mama, just killed a man, put the gun against his head, pulled my trigger now he’s dead”. Kemudian lirik yang tidak kalah menarik adalah “Mama, I don’t want to die, I sometimes wish I’d never been born at all”.

Lirik ini dinterpetasikan sebagai kisah seorang pemuda yang telah membunuh seseorang dan terancam hukuman mati. Ia kemudian tertangkap dan harus menghadapai vonisnya. Hal tersebut membuatnya menyesal dan merasa bersalah kepada ibunya.

Kemudian untuk segmen musik opera, ada beberapa nama tokoh dan istilah unik yang dimasukkan seperti Scaramouche, Beelzebub, Galileo, serta fandango. Scaramouche adalah tokoh badut dalam teater Commedia Dell’arte asal Italia. Diceritakan kalau sosok ini selalu sukses lolos dari situasi bahaya dengan cara mengorbankan orang lain.

Kemudian Beelzebub adalah sosok iblis jahat yang menyebaban kehancuran. Dia termasuk dalam tiga Fallen Angels. Sedangkan Fandango sendiri adalah nama tarian asal Spanyol. Penggunaan diksi Galileo juga menarik untuk dicermati.

Beberapa sumber meyakini bahwa Galileo digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan seseorang yag punya pemikiran berbeda namun kemudian justru mendapatkan banyak pertentangan dan harus dikucilkan oleh masyarakat.

Terlepas dari banyaknya persepeketif dan interpretasi untuk Bohemian Rhapsody, tidak bisa dipungkiri bahwa lagu ini adalah salah satu “the greatest song ever”. Terbukti dengan sukses terjual hingga 6 ribu kopi di seluruh dunia dan termasuk album rock paling populer sepanjang sejarah.