REVIEW FILM TO ALL THE BOYS: P.S I STILL LOVE YOU (2020): Potret Percintaan Remaja Yang Dibarengi Hadirnya Kenangan

review film to all the boys: p.s i still love you

Di serial kedua kali ini, film remaja komedi romantis berjudul Review Film To All The Boys P.S: I Still Love You sudah tidak disutradarai oleh Susan Johnson, melainkan oleh Michael Fimognari. Dengan berdurasi kurang lebih 102 menit, film ini juga masih didistribusikan oleh Netflix dan tetap mengangkat tema kisah percintaan sekaligus persahabatan remaja tingkat Sekolah Menengah Atas yang dipenuhi warna-warni menyenangkan dan tak terlupakan.

Masih di produksi oleh Overbook Entertainment , serial kedua kali ini rasanya lebih menggemaskan untuk ditonton, terkhusus bagi para remaja-remaja yang penasaran dengan kehidupan percintaan diluar sana. Terlebih lagi, review film to all the boys: p.s i still love you ini rilis tepat 2 hari sebelum Hari Valentine yaitu 12 Februari 2020, dimana para remaja senang mendeklarasikan hari Valentine sebagai hari kasih sayang antar mereka.

Dibintangi oleh aktris dan aktor kenamaan seperti Lana Condor dan Noah Centineo sebagai tokoh sentralnya, Jordan Fisher, Anna Cathcart, Emilija Baranac, serta aktris dan aktor lainnya, review film to all the boys: p.s i still love you  ini mengangkat cerita tentang kehidupan Lara Jean Covey (Lana Condor) di Sekolah Menengah Atas yang mendadak penuh warna, dikarenakan pria idamannya, Peter Kavinsky (Noah Centineo), telah menjadi kekasihnya saat ini.

Hari-hari dilewati mereka berdua dengan penuh warna-warni cinta dan juga kenaifan hubungan sepasang remaja. Terdapat juga kisah-kisah persahabatan yang cukup menarik untuk disimak di review film to all the boys: p.s i still love you ini.

Langsung saja yuk kita simak ringkasan alur cerita serta review film to all the boys: p.s i still love you dari kita untuk film To All The Boys P.S: I Still Love You ini. Semoga tulisan dari kita ini akan menghibur kalian para pembaca dan juga siapa tahu bisa menambah referensi film-film yang akan kalian tonton di akhir pekan nih.

review film to all the boys: p.s i still love you
review film to all the boys: p.s i still love you

PLOT SUMMARY REVIEW FILM TO ALL THE BOYS P.S: I STILL LOVE YOU (2020)

Seorang wanita bernama Lara Jean menjalani kehidupan sebagai seorang remaja Sekolah Menengah Atas. Lara Jean merasa sangat senang sekali karena pria idamannya, Peter Kavinsky, seorang atlit populer di sekolahnya telah menjadi kekasihnya saat ini, yang ternyata dibantu oleh adik perempuannya Kitty yang sangat mendukung apapun yang dilakukan oleh Lara Jean.

Hari-hari Lara dan Peter pun dipenuhi dengan warna-warni percintaan ala kepolosan anak remaja yang tengah dimabuk asmara. Lara dan Peter pun melewati masa kencan pertama mereka, dimana mereka berniat untuk terus menjaga hubungan tersebut dan tidak saling menyakiti satu sama lain sampai nanti.

Namun, ternyata pemikiran Lara dan Peter mengenai sebuah hubungan terlalu sederhana dan polos. Karena setelah mereka menjalaninya, Lara Jean terutama, merasakan ada hal yang mengganjal di dalam hati dan pikirannya mengenai seorang Peter, kekasihnya.

Ini adalah kali pertama Lara Jean menjalin sebuah hubungan berpacaran, dan hal itu berbeda dengan Peter yang sebelumnya sudah pernah menjalin hubungan dengan Gen, mantan kekasih Peter yang cantik dan populer sekaligus sahabat Lara Jean dulunya, sebelum pada akhirnya Lara dan Gen memutuskan untuk saling membenci satu sama lain setelah Gen mengetahui hubungan Lara dan Peter.

Suatu hari, sekolah Lara Jean mengadakan program sukarelawan (volunteering) bagi siswa-siswinya yang berada di tahun terakhir.

Sementara Peter bersama teman-temannya mendaftar di tempat lain, Lara Jean memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi sukarelawan di Belleview Retirement Home, sebuah rumah pensiunan yang sepintas mirip seperti panti jompo kelas menengah atas, tempat yang direkomendasikan oleh saudara perempuannya, Margot.

Semula Lara Jean berpikir bahwa hanya ia siswa yang akan menjadi sukarelawan di tempat tersebut, namun ternyata ada seorang siswa lain lagi bernama John Amborse, yang ternyata teman Lara Jean semasa SMP sekaligus mantan pria incarannya dulu.

Kehadiran John Amborse, seorang laki-laki yang dulunya pernah dikirimkan surat cinta dari Lara Jean saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, seperti menambah kerumitan hubungan Lara dan Peter akhir-akhir ini.

Lara memang sangat menyukai Peter dan tidak akan bermain-main di belakangnya, namun karena ini adalah kali pertama Lara menjalin sebuah hubungan dengan laki-laki, maka ia menjadi merasa insecure terhadap hubungan tersebut.

Ia menjadi sering memikirkan hal-hal seperti apakah Peter sudah melakukan hal-hal romantis yang mereka berdua lakukan kepada wanita-wanita sebelumnya juga? Dan, apakah Peter masih memikirkan Gen, mantan kekasihnya? Pikiran itu terus menghantui Lara.

Juga, kehadiran John Amborse, yang membuat Lara berfikir bahwa apakah seorang John Amborse sebenarnya telah benar-benar menghilang dari dalam benaknya atau belum.

Lara Jean berniat untuk memberitahukan John Amborse bahwa dirinya saat ini sudah berpacaran dengan Peter, namun ia belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahunya. Sementara di lain pihak, Gen mantan kekasih Peter ternyata masih saja selalu mencari cara untuk mengganggu hubungan Peter dan Lara.

review film to all the boys: p.s i still love you
review film to all the boys: p.s i still love you

Peter tidak terbuka mengenai perilaku Gen selama ini kepada Lara, yang mana Gen masih menghubungi Peter untuk sekedar menceritakan keluh kesahnya, Gen bahkan mengancam Peter untuk mengganggu Lara, sehingga Peter terpaksa menuruti kemauan Gen untuk sementara waktu.

Hingga pada suatu hari Lara Jean mendapati foto kedekatan Peter dan Gen yang diambil secara diam-diam oleh teman dekat Lara Jean. Hal itu benar-benar membuat Lara sakit hati lalu memutuskan hubungannya dengan Peter, meskipun hatinya sebenarnya tidak menginginkan hal itu terjadi.

Hal yang sama dirasakan oleh Peter, yang mana sebenarnya ia hanya sedang menenangkan Gen yang sedang menceritakan masalah keluarganya kepada Peter saat foto itu diambil, Peter sama sekali tidak berniat untuk bermain-main di belakang Lara Jean. Namun, mereka tetap berpisah pada akhirnya.

Lara Jean merasa sangat sedih sejak putusnya hubungan mereka tersebut, begitupun yang dirasakan Peter. Waktu terus berjalan, program sukarelawan pun juga akan sampai di penghujungnya. Di momen penghujung tersebut, tak disangka ada beberapa hal yang terjadi diantara Lara Jean, Peter, John Amborse, dan juga Gen.

Hal yang membuat mereka pada akhirnya mengerti akan arti dari persahabatan, kasih sayang, dan juga cinta yang sebenarnya.

GOOD POINTS REVIEW FILM TO ALL THE BOYS: P.S I STILL LOVE YOU

Review film to all the boys: p.s i still love you garapan sutradara Michael Fimognari ini mengangkat genre tentang remaja komedi romantis, yang mana isi dari ceritanya yaitu segala hal tentang dunia remaja di masa tersebut.

Sehingga, acting yang dimainkan oleh Lana Condor dan Noah Centineo sebagai sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara benar-benar terlihat pas sesuai pada porsinya. Lana pintar dalam mencerminkan sifat seorang perempuan Sekolah Menengah Atas yang memiliki 1 – 2 pria idaman di dalam hidupnya, yang mana pria idaman tersebut biasanya memang pria populer atau pria yang tidak sama sekali mengenal dirinya.

Baca Juga : https://kopinaga.com/2020/10/19/8-langkah-bijak-menggunakan-prediksi-angka-mbah-tungku/

Dan hal itu terbukti dari hubungan Lara Jean dan Peter Kavinsky yang sebelum mereka berpacaran, Lara adalah seorang siswi yang biasa saja sedangkan Peter adalah seorang atlet olahraga yang populer di sekolah mereka. Chemistry mereka sebagai pasangan remaja cukup kuat untuk dijadikan sebuah film romantis ala anak muda.

Color tone atau perpaduan warna-warna yang terlihat dan digunakan di film serial kedua dari Revuew Film To All The Boys I’ve Loved Before ini juga sangat pas dan sesuai dengan tema film yang diangkat yaitu kisah percintaan dan persahabatan para remaja.

Perpaduan warna tersebut membuat para penonton yang menyaksikan review film to all the boys: p.s i still love you ini merasa “segar” secara visual, sehingga hal tersebut bisa menambah keseruan dalam mengikuti alur ceritanya sampai film ini selesai.

Di pertengahan adegan kita bisa mendengar lagu latardari girlband asal Korea Blackpink – Kill This Love meski hanya dalam 10 – 15 detik saja, saat Lara Jean sedang berdandan ala Cheerleader di kamarnya demi mendukung pacar tersayangnya yang akan bertanding yaitu Peter.

Juga terdapat satu adegan review film to all the boys: p.s i still love you dimana sekelompok siswa di sekolah Lara Jean yang sedang berlatih acapella di kantin sekolah dengan menyanyikan lagu Ocean Eyes dari Billie Eilish. Pemilihan lagu-lagu latar tersebut sejujurnya sangat baik dan sangat identik dengan pergaulan remaja zaman sekarang ini. Sehingga hal tersebut bisa saja menambah kekuatan ketertarikan penonton untuk menyaksikan review film To All The Boys P.S: I Still Love You ini.

Dari awal adegan kita sudah melihat keluarga serta situasi rumah dari Lara Jean. Lara tinggal bersama ayah-nya yang baik hati dan sedikit protektif terhadap dirinya, Dr. Covey, beserta adik perempuannya yang sangat suportif dan menyayanginya yaitu Kitty, di dalam sebuah rumah, tanpa adanya seorang Ibu.

Ternyata setelah di pertengahan adegan review film to all the boys: p.s i still love you ini terlihat Lara Jean yang sedang sedih memandang foto ibu nya di ruang kamarnya sambil mengatakan bahwa ia merindukan ibunya. Entah ibunya digambarkan telah meninggal atau hanya bercerai, namun yang bisa kita petik dari adegan-adegan tersebut adalah betapa harmonisnya keluarga Lara Jean, meski tanpa adanya sosok Ibu.

Hal ini menjadi hal yang positif untuk diperlihatkan dan dikembangkan dalam sebuah film, apalagi film ini target utamanya adalah anak-anak muda yang masih memiliki jiwa dan pemikiran yang belum stabil sebagaimana orang dewasa dalam mencerna apa yang mereka lihat.

NOT – REALLY GOOD POINTS DARI REVIEW FILM TO ALL THE BOYS: P.S I STILL LOVE YOU

Di adegan dimana Lara Jean sedang berkumpul dengan teman-teman sekolahnya dan juga dengan Peter, yang mana mereka semua sedang asyik bermain dengan permaiannya masing-masing, terlihat Lara dihampiri oleh Lucas, teman dekat laki-lakinya di sekolah.

Mereka pun berbincang dan sampailah pada perkataan Lara Jean bahwa Lucas adalah seorang Gay. Poin ini menurut kami adalah poin yang akan menjadi kekurangan pertama dari film yang didistribusikan oleh Netflix ini.

Pengangkatan atau penyinggungan tema LGBT di dalam sebuah review film to all the boys: p.s i still love you yang merupakan layar lebar sepertinya tidak pantas untuk dilakukan dikarenakan pandangan miring dan buruk yang dimiliki oleh hampir seluruh orang mengenai LGBT.

Dan tiba-tiba di film remaja bergenre drama komedi romantis ini justru mengangkat tema LGBT tersebut. Meskipun nyatanya memang tidak ada adegan apapun yang mengarah kepada kegiatan LGBT, namun tetap saja LGBT bukanlah hal yang pantas untuk dijadikan konsumsi publik sehingga harus diutarakan di dalam sebuah film yang terget utama pasarannya adalah anak-anak muda.

Sifat Lara Jean yang terlihat plin-plan dalam menentukan siapa yang benar-benar ada di dalam hatinya sebenarnya bisa menjadi hal yang sedikit berbahaya bagi karakter yang dimainkan oleh Lana Condor ini.

Penonton review film to all the boys: p.s i still love you sudah cukup terhibur dan tersihir dengan chemistry dari Lara dan Peter, sehingga sulit rasanya bagi penonton untuk menerima kehadiran orang ketiga seperti Josh Amborse tersebut.

Adegan dimana Lara Jean mencium Josh Amborse di malam acara yang diadakan di Belleview Retiremnet Home telah cukup membuktikan keragu-raguan yang ada di dalam hati Lara Jean, meskipun memang saat Lara mencium Josh di malam itu, Lara Jean dan Peter sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Toh pada akhirnya Lara tetap menyadari bahwa Peter-lah yang ia cintai, bukan Josh Amborse.

Juga, hal yang sama digambarkan oleh Noah Centineo dalam memainkan peran sebagai Peter Kavinsky. Peter seperti terus-menerus mengikuti kemauan Gen yang terkadang tidak masuk akal, dengan beralasan agar hubungannya dengan Lara Jean baik-baik saja tanpa ada gangguan Gen.

review film to all the boys: p.s i still love you
review film to all the boys: p.s i still love you

Padahal, hal tersebut justru hanya akan membuat kesalah-pahaman antara Peter dan Lara Jean, yang mana hal tersebut memang terbukti pada adegan dimana Lara memperlihatkan foto Peter yang berada sangat dekat posisinya dengan Gen kepadanya.

Sikap lemah yang ditunjukkan Peter tersebut bisa saja disalah-pahami oleh para penonton review film to all the boys: p.s i still love you, karena bisa saja para penonton beranggapan bahwa Peter masih menyimpan rasa kepada Gen.

CLOSING REVIEW FILM TO ALL THE BOYS: P.S I STILL LOVE YOU

Sampailah kita pada akhir sesi dari review film To All The Boys: P.S I Still Love You ini. Kira-kira, pesan moril apa yah yang bisa diambil dari film garapan sutradara Michael Fimognari maupun review film to all the boys: p.s i still love you yang sudah kita buat ini? Pasti seru-seru yah pendapat dan komentar kalian! Mungkin pesan moral yang bisa kita dapatkan bersama dari tayangan serta penjelasan mengenai film ini adalah, jangan terburu-buru menilai sesuatu hal hanya berdasarkan dari asumsi sebelah mata saja.

Karena, segala hal bisa saja terjadi, dan segala hal yang bisa saja terjadi tersebut bisa juga tidak terpikirkan oleh kita. Juga, untuk sebuah nilai dari hubungan persahabatan, sebenarnya adalah nilai yang paling tinggi diantara hubungan-hubungan lainnya yang ada di dunia ini, maka sepertinya hubungan persahabatan tidak seharusnya merenggang atau bahkan rusak begitu saja hanya karena sebuah hubungan percintaan, yang mungkin saja suatu saat nanti bisa berakhir. Lagipula, segalanya masih bisa dibicarakan dengan baik-baik, kan? Hehe.

review film to all the boys: p.s i still love you
review film to all the boys: p.s i still love you

Jangan lupa juga bagi kalian yang ingin menyaksikan keseruan review film to all the boys: p.s i still love you remaja komedi romantis ini, agar langsung meluncur ke browser kalian lalu ketik go90.show yah.

Go90.show juga memberikan kualitas BluRay untuk kalian agar keseruan kalian tidak terganggu saat nonton film-film kesayangan kalian nih.

Nah, setelah nonton film ini, buru-buru deh dibahas bareng review film to all the boys: p.s i still love you dari kita ini ke teman kalian, tetangga, gebetan, teman kerja, teman sepermainan, bahkan ke orang tua kalian dan siapapun itu asalkan kalian gak ngobrol sendirian yah, karena pasti menyeramkan guys kalau kalian terlihat ngobrol dan berbicara sendiri tanpa ada teman bicara di depan kalian, hihi.

REVIEW FILM VIVARIUM (2020): Penuh Teka-Teki, Plot Antiklimaks, dan Sensasi Sci-Fi Thriller Berkumpul Menjadi Satu | Free !!

review film vivarium

REVIEW FILM VIVARIUM (2020): Penuh Teka-Teki, Plot Antiklimaks, dan Sensasi Sci-Fi Thriller Berkumpul Menjadi Satu. – Hai Hai, apa kabar kalian semua? Masih sehat dan segar-segar saja kan meskipun masih stay dirumah? Nah, untuk menemani hari-hari kalian dirumah, di kesempatan kali ini kita akan membahas review film vivarium bergenre Science – Fiction lagi nih.

Kali ini review yang akan kita bahas adalah review film Vivarium, film yang cukup unik dengan penggabungan antara genre Sci – Fi dan Psychological Thriller berdurasi 97 menit. Berlatarbelakang di negara Irlandia, Denmark, dan Belgia, film ini diproduksi dengan apik dan epik oleh XYZ Films dan disutradarai oleh Lorcan Finnegan.

Review Film Vivarium menceritakan tentang sepasang kekasih bernama Gemma dan Tom yang sudah bertunangan, dimana mereka ingin sekali mencari dan melihat-lihat sebuah rumah, yang nantinya akan mereka huni saat mereka sudah resmi menjadi pasangan suami – istri.

Dengan berbekal niat tersebut, bertemulah mereka dengan seorang agent perumahan yang baru saja dibangun, yang mana rumah yang ditawarkan oleh agent yang bernama Martin tersebut memiliki bentuk tipikal yang sama secara keseluruhannya, suasana yang disuguhkanpun juga sangat asri dan nyaman, potret sebuah rumah dan lokasi yang diidam-idamkan oleh para pasangan muda.

Ditengah proses obrolan yang terjadi diantara mereka, tiba-tiba Martin menghilang begitu saja dengan sangat cepat, lengkap juga dengan kendaraan yang Martin bawa. Tom dan Gemma sangat kebingungan serta bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.

Dari sini, penonton sudah mulai terbawa arus psikis dari para pemeran utama. Aura yang cukup menegangkan sangat terasa ketika Tom dan Gemma mulai khawatir mengapa Martin yang tadinya berada dibelakang mereka tiba-tiba menghilang hanya dalam waktu sepersekian detik.

Ditambah lagi dengan adegan ketika Tom dan Gemma tidak bisa menemukan jalan pulang sama sekali, padahal mereka sudah berkali-kali mengendarai mobilnya untuk mencari jalan pulang mereka, namun tetap saja mereka seperti hanya memutari lokasi tersebut lalu kembali lagi ke rumah nomor 9.

Suasana horror makin terasa memuncak pada review film vivarium saat bahan bakar mobil mereka habis dan terpaksa mereka harus menginap di tempat asing dan luar biasa sepi tersebut dikarenakan hari sudah mulai malam dan gelap.

Lorcan sepertinya memang piawai dalam menggarap film-film bertema thriller psychological, dimana film-film tersebut dirasa perlu usaha ekstra untuk menuangkan gagasan tentang bagaimana cara membuat penonton takjub sekaligus bergidik ngeri dalam satu waktu.

Terbukti dengan Review Film Vivarium, film garapan terbarunya ini cukup berhasil membuat penonton penasaran akan setiap detik per detik adegannya, meski pada akhirnya penonton harus menelan rasa yang kurang memuaskan ketika penonton harus menghadapi sebuah cerita yang tidak memiliki klimaksnya sendiri.

Langsung saja yuk kita bahas review film Vivarium yang rilis di Irlandia pada bulan Maret 2020 ini. Tapi sebelum kita melaju ke Review film Vivarium, ada baiknya kita baca dulu yah ringkasan alur ceritanya. Happy reading, folks!

PLOT SUMMARY REVIEW FILM VIVARIUM (2020)

Di suatu siang yang cerah, Gemma seorang perempuan yang berprofesi sebagai staf pengajar Playground sedang melakukan aktifitasnya mengajar anak-anak seperti biasa.Sementara diluar ruangan, ada Tom, tunangan Gemma, yang menjemputnya ke sekolah untuk pulang bersama.

Tom memanjat pohon yang ada di halaman sekolah tersebut dan menunggu Gemma disana. Mereka pun bertemu saat jam belajar selesai, saat seluruh siswa telah bubar dan masing-masing akan pulang ke rumahnya.

Ada salah satu siswi yang terlihat dari kejauhan oleh Gemma, anak perempuan tersebut sedang menunduk termenung melihat ke rerumputan. Berbekal rasa ingin tahu, Gemma pun menghampirinya.

Ternyata murid tersebut sedang memandang bangkai anak burung yang terjatuh di rumput dari atas pohon sekolah tersebut. Anak perempuan tersebut bertanya mengenai anak burung yang mati, Gemma pun menjelaskannya dengan lembut dan hati-hati.

Tak lama kemudian, datanglah orang tua siswi tersebut untuk menjemputnya. Ia pun pulang, meninggalkan Gemma yang kini sedang asyik berbincang dengan Tom, yang ternyata berada tepat di atas pohon tempat dimana Gemma berdiri.

Gemma dan Tom pun langsung menuju ke tempat yang telah mereka rencanakan, yaitu sebuah kantor agency perumahan baru.

Gemma dan Tom memang berniat ingin mencari sebuah rumah yang sempurna bagi mereka, untuk kemudian dihuni setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka pun menemukan satu agency yang menurut banyak orang sangat cocok untuk dihuni pasangan muda serta harganya yang juga terjangkau, yaitu Perumahan Yonder.

Saat Tom dan Gemma sampai di kantor agency tersebut, mereka berdua langsung bertemu dengan seorang laki-laki yang sepertinya adalah salah satu agent di tempat tersebut, bernama Martin.

Mereka pun berbincang, Martin menyambut Tom dan Gemma dengan sangat ramah sebagaimana seorang agent menyambut seorang customer. Sampailah pada keputusan dimana Martin meminta Gemma dan Tom untuk ikut melihat langsung ke lokasi perumahan Yonder tersebut.

Tom yang sedari awal terlihat tidak terlalu bersimpati sebenarnya sudah ingin menolak ajakan tersebut, namun Gemma ternyata lebih dulu menjawab dan menerima ajakan Martin untuk melihat-lihat lokasi rumah yang Martin tawarkan kepada mereka berdua. Mereka pun pergi menuju lokasi dengan Martin membawa kendaraannya sendiri, begitu pula Tom dan Gemma.

Sesampainya di perumahan tersebut, seluruh area beserta rumahnya memang terlihat masih sepi dan belum berpenghuni. Martin langsung mengajak Tom dan Gemma untuk masuk melihat-lihat ke rumah nomor 9, rumah yang ditawarkan oleh Martin dan yang diinginkan oleh Gemma.

Pada awalnya semua berjalan seperti biasa, tidak ada hal yang aneh dan ganjil dari situasi tersebut. Sampai pada akhirnya Martin sang agent tiba-tiba menghilang begitu saja saat sedang mengantar Gemma dan Tom tur keliling rumah untuk melihat-lihat seisi rumah tersebut.

Tom semakin yakin bahwa agent yang mereka temui itu adalah seseorang yang aneh. Dengan perasaan bingung, Gemma pun akhirnya mengikuti Tom untuk naik ke dalam mobil dan segera pulang.

Awalnya Gemma yang menyetir mobilnya, namun sepertinya Gemma salah arah pulang sehingga mereka berdua seperti hanya memutari area itu saja lalu kembali lagi ke rumah nomor 9. Tom menawarkan diri untuk bergantian mengemudi, Gemma pun meng-iya-kan permintaan Tom.

Saat Tom mengemudi mobil tersebut, hasil yang didapatkan sama saja seperti sebelumnya, yaitu mereka hanyalah mengitari area di sekitar itu lalu kembali lagi ke rumah nomor 9. Berkali-kali mereka mencoba cari cara untuk keluar dari lokasi perumahan yang aneh tersebut, berkali-kali itu pula mereka dikembalikan ke rumah nomor 9.

Hingga malam pun menjelang, Tom dan Gemma masih belum menemukan jalan keluar. Handphone mereka pun anehnya sama-sama tidak mendapatkan sinyal sama sekali. Mobil yang mereka kendarai pun kehabisan bahan bakar bensin. Terpaksa dan mau tak mau mereka harus bermalam di rumah nomor 9 tersebut, untuk kemudian menyusun kembali rencana dan jalan keluar di keesokan hari.

Saat pagi menjelang, Tom segera keluar dan menaiki atap bagian luar dari rumah tersebut, untuk melihat jalan keluar yang mungkin bisa mereka tempuh. Dibantu oleh Gemma yang memegangi tangga, Tom pun turun perlahan lalu memberitahu Gemma bahwa mereka hanya bisa mengikuti arah matahari saja, tidak lebih.

Tom dan Gemma pun melanjutkan perjalanannya untuk mencari jalan keluar, kali ini hanya dengan jalan kaki saja. Tak disangka-sangka, perjalanan Tom dan Gemma tersebut ternyata justru hanya membawa mereka berdua ke dalam kejadian-kejadian aneh dan menegangkan yang entah akan berujung seperti apa.

GOOD POINTS DARI REVIEW FILM VIVARIUM

Review Film Vivarium yang bergenre Sci-Fi Psychological Thriller ini benar-benar berhasil membuat penonton sedikit bergidik yah sepertinya. Hal ini dapat kita lihat dari pemilihan lokasi perumahannya, dimana perumahan Yonder tersebut benar-benar perumahan yang mencerminkan aura misteri dan cukup menyeramkan untuk dihuni.

Sang sutradara Lorcan Finnegan sepertinya benar-benar mempersiapkan karya filmnya akan menjadi seperti apa nantinya, Lorcan terlihat benar-benar ingin memberikan sensasi ngeri yang berbeda bagi penonton melalui adegan per adegan maupun pemilihan lokasi dari Review film Vivarium ini.

Plot cerita yang sebenarnya cukup sederhana jika kita hanya menarik dari sudut benang merahnya saja; yaitu seorang laki-laki dan perempuan yang sudah bertunangan lalu ingin mencari rumah untuk mereka huni nantinya kemudian mereka bertemu dengan seorang agent perumahan yang menawarkan rumah bagi mereka namun kemudian agent tersebut hilang secara misterius.

Cukup dapat diserap dengan cepat oleh penonton. Namun, meskipun sederhana, nyatanya alur cerita yang disajikan makin lama makin membuat para penonton ikut berfikir bagaimana jalan keluar untuk sang pemeran utama, plot nya pun seperti berhasil membuat para penonton terus merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi di adegan-adegan selanjutnya.

Hal ini bisa menjadi poin plus bagi sang sutradara maupun penulis naskah, dimana mereka dapat menggabungkan unsur kesederhanaan sekaligus kerumitan dari sebuah jalan cerita dengan begitu apik, seperti yang bisa kita lihat di review film vivarium berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit ini.

Hal menarik lainnya bisa kita lihat dari adegan sang pemeran utama, Imogen Poots, saat memerankan Gemma yang terlihat sudah sangat putus asa dengan keadaan yang ada, apalagi ditambah Tom kekasihnya yang mati meninggalkannya sendiri di tempat tersebut.

Menariknya adalah, karakter Gemma tidak dibuat dengan serta merta menginginkan kematian juga agar bisa mengikuti kekasihnya Tom pada review film vivarium ini, atau mungkin meminta sang anak misterius yang ada di film tersebut untuk membunuhnya saja.

Meskipun memang pada akhirnya Gemma tetap mati di depan rumah nomor 9 tersebut, tapi setidaknya Gemma tidak mati ditangan sang anak aneh tersebut yang sebenarnya sangat ingin ia bunuh.

Gemma justru terus berusaha untuk mencari cara agar ia bisa keluar dari tempat terlaknat tersebut setelah Tom meninggal, bahkan ia dengan beraninya mencoba mengkonfrontir sang anak dan memukulnya dengan menggunakan barang tajam, sehingga kepala sang anak tersebut berdarah dan sang anak itu berlari merangkak mirip seperti hewan yang sedang kesakitan sehabis dipukul oleh manusia. Jadi, sebenarnya anak tersebut adalah anak manusia atau anak apa yah?

Review film vivarium

NOT – REALLY GOOD POINTS

Antiklimaks. Yap, bisa dikatakan dan sepertinya bisa sangat disetujui bahwa review film Vivarium ini memiliki plot yang antiklimaks. Tidak ada penyelesaian atau klimaks yang cukup melegakan dari ending film ini.

Akhir cerita yang tidak jelas bisa saja membuat para penonton cukup kecewa dengan adegan-adegan yang sudah mereka tonton sejak awal. Mengapa tidak dijelaskan saja siapa sebenarnya Martin, apa motifnya melakukan hal-hal tersebut, lalu apa sebenarnya yang ada di balik perumahan Yonder tersebut.

Mengapa juga tidak dijelaskan tentang kematian Gemma dan Tom ? Mengapa mereka harus mati sia-sia padahal Gemma sudah berusaha membesarkan anak tersebut dengan cukup baik, meskipun Tom memang tidak cukup bersimpati kepada anak aneh tersebut selama ini.

Apakah sang sutradara memang sengaja membuat akhir dari cerita ini menjadi gantung, hanya agar sukses membuat para penonton penasaran lalu kemudian berencana menggarap sekuel keduanya? Masih belum diketahui.

Review Film Vivarium yang memiliki plot antiklimaks seperti ini ditakutkan hanya akan menjadi bahan kekecewaan bagi para penonton, yang mana nantinya penonton yang merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di film tersebut justru tidak akan merekomendasikan orang lain untuk menonton film ini lagi.

CLOSING…

Here we are! Sampailah kita di akhir pembahasan dan ulasan mengenai review film Vivarium ini. Setelah ditonton lalu dibahas bersama, apakah kalian setuju dengan poin-poin yang sudah kita jelaskan diatas tersebut? Atau apakah kalian punya pendapat lain yang lebih seru dan menegangkan? Wah sepertinya seru banget nih kalau kalian bisa berbagi pendapat dan komentar ke kita mengenai film bertemakan thriller psikologis ini.

By the way, seperti biasanya, di setiap karya film pasti ada 1 -2 hal yang bisa kita ambil sebagai the keys maupun pesan moral bagi diri sendiri dan untuk sesama nih, hehe.

Kalau menurut kita nih, review film Vivarium ini seperti ingin menyinggung tentang bagaimana potret dari kehidupan berumah tangga yang sebenarnya, yang selama ini mungkin sering di salah-kaprahkan oleh kebanyakan orang diluar sana. Juga, Vivarium seperti memberikan pesan tersirat mengenai sosok seorang Ibu dan segala perannya dalam kehidupan.

Hal ini terlihat dari segala adegan yang memperlihatkan Gemma yang merawat sang anak tersebut hingga ia besar, juga beberapa percakapan sang anak aneh tersebut dengan Gemma di menit-menit akhir film ini, saat Gemma sedang sekarat dan sebentar lagi menemui ajalnya.

Sang anak laki-laki tersebut mengucapkan kalimat-kalimat seperti “Oh, Ibu, Kau adalah rumah.” , juga saat sang anak tersebut bertanya kepada Gemma tentang siapa sebenarnya seorang ibu itu dan apa saja sebenarnya yang dilakukan oleh Ibu di dunia ini.

Percakapan mereka pun ditutup dengan satu statement sang anak aneh tersebut yang mengatakan “Ia pun meninggal”, yang mana kalimat tersebut meneruskan percakapannya dengan Gemma tentang keberadaan seorang Ibu setelah selesai mengurus anak-anaknya.

Menurut kalian, motif apa yang melatarbelakangi sang anak dalam mengucapkan kalimat-kalimat tersebut? Cukup membingungkan yah. Yang jelas, akhir dari cerita film ini memang bisa dikatakan sebagai akhir yang cukup suram, dimana para pemeran utamanya harus mati sia-sia begitu saja tanpa ada penjelasan apapun baik dari pihak antagonis (si anak aneh tersebut ataupun Martin), maupun dari pihak protagonis (Tom dan Gemma).

Well, jika kalian mau menyaksikan keseruan Tom dan Gemma dalam menghadapi si anak aneh tersebut, kalian bisa langsung menontonnya dengan membeli dvd originalnya atau mencari bioskop yang masih menayangkannya.

Review film vivarium ini dibuat sebagai bahan refferensi bagi Anda yang menyukai film film thriller yang dipadukan dengan sci fi dan juga teka teki. Selain itu Anda juga akan disuguhkan dengan editing yang sangat menarik.

Nah, tetap stay tune ya, karena kami akan terus update berbagai review menarik seperti review film vivarium ini. Semoga review film vivarium ini bisa menjadi pengisi waktu Anda selama pandemi covid-19.

REVIEW FILM DOLITTLE (2020): Film Yang Sarat Akan Pesan Moral

Review Film Dolittle

REVIEW FILM DOLITTLE (2020): Film Yang Sarat Akan Pesan Moral – Universal Pictures kembali mendistribusikan sebuah film bergenre Fantasy Adventure yang digarap oleh sutradara Stephen Gaghan bersama rumah produksi dari Team Downey dan Roth/Kirschenbaum Films.

Berjudul Dolittle , film ini menyajikan aksi-aksi heroik serta tingkah-tingkah lucu dari peran utamanya maupun para pemeran pendukung yang sebagian besar digambarkan sebagai hewan. Rilis pada bulan Januari 2020, film ini cukup sukses dengan pendapatan Box Office sebesar kurang lebih USD 250 Juta.

Dibintangi oleh aktor papan atas Hollywood yaitu Robert Downey Jr, sepertinya Review film Dolittle ini film yang pantas untuk ditonton di akhir pekan alias worth to watch nih, guys.

Kapan lagi kita akan melihat seorang Robert Downey Jr yang beradu akting dengan para peran hewan yang disulih suara-kan oleh beberapa aktor dan aktris kenamaan seperti Selena Gomez, Tom Holland, Octavia Spencer, hingga John Cenna ? Benar-benar sebuah adu akting yang sepertinya menakjubkan, meskipun mungkin hanya melalui dubbing yah.

Selain Robert Downey Jr, ada juga aktor dan aktris Harry Collet memainkan peran sebagai Tommy Stubbins, Kasia Smutniak sebagai Lily Dolittle, Antonio Banderas berperan sebagai King Rassouli ayah dari Lily Dolittle, Michael Sheen juga berperan sebagai Dr. Blair Mudfly, Jessie Buckley yang memainkan peran sebagai Ratu Victoria, serta Carmel Laniado sebagai Lady Rose yang dipercayai Ratu untuk menjadi asisten kepercayaannya, yang turut serta memeriahkan film Dolittle ini.

Review Film Dolittle berkisah tentang seorang dokter hewan yang sebelumnya sangat bersemangat dalam menjalani profesinya dalam menolong dan menyembuhkan semua hewan yang terluka, namun kini terlihat terpuruk dan memilih untuk menyendiri di sebuah cagar alam bersama dengan hewan-hewan kesayangan peliharaannya.

Hal ini disebabkan oleh kematian sang istri, Lily Dolittle, yang mati diterjang badai laut saat sedang berlayar. Hal itu benar-benar membuatnya merasa patah hati sehingga ia tidak ingin melanjutkan kegiatannya sebagai dokter hewan lagi. Sampai suatu ketika ia menerima tamu yang tak diundang yang datang ke rumahnya, sehingga dari momen itulah jalan pikiran Dolittle mulai terbuka.

Nah, langsung saja yuk kita menuju ke bagian ringkasan alur cerita beserta review film Dolittle ini. Dibaca dan disimak baik-baik yaah.

PLOT SUMMARY REVIEW FILM DOLITTLE (2020)

Alkisah hiduplah seorang dokter hewan bernama Dr. John Dolittle yang selain sangat piawai dalam pekerjaannya menyelamatkan para hewan yang terluka, ia juga mampu berbicara dengan hewan menggunakan bahasa mereka.

Lambat laun tersiarlah berita mengenai kemampuan Dolittle ini sampai ke telinga kerajaan Inggris, sehingga Ratu Inggris pun mengundangnya ke istana. Ratu Inggris pun menganugerahi Dolittle sebuah Cagar Alam sebagai tanda terima kasih kepadanya, yang mana Cagar Alam tersebut dapat dihuni oleh Dolittle beserta seluruh hewan-hewan peliharaan maupun hewan-hewan tampungannya. Dolittle sangat bahagia dengan pemberian tersebut.

Selang berjalannya waktu, bertemulah Dolittle dengan seorang perempuan bernama Lily, yang memiliki kegemaran yang sama dengan Dolittle yaitu memelihara dan mencintai segala jenis hewan.

Lily adalah seorang petualang sejati, dan Dolittle pun jatuh cinta kepadanya sehingga mereka pun memutuskan untuk menikah dan hidup bersama di cagar alam yang Dolittle miliki.

Sampai pada akhirnya suatu hari Lily meminta izin untuk pergi berlayar sementara waktu bersama burung macaw kesayangannya bernama Poly, tanpa ditemani oleh Dolittle. Dolittle pun mengizinkan dan berpisahlah mereka untuk sementara waktu.

Namun, selang waktu berjalan, Poly kembali pulang hanya dengan membawa cincin pernikahan yang Lily pakai, tidak dengan Lily.

Dolittle tahu apa maksud dari kepulangan sang burung itu, yaitu Poly memberitahukan bahwa Lily telah mati ditengah laut saat terjadinya badai besar.

Dolittle merasa sangat sedih, marah pada diri sendiri, dan juga depresi, sehingga ia memutuskan untuk menutup Cagar Alam miliknya tersebut dari publik. Dolittle benar-benar ingin menyendiri, hanya dengan ditemani oleh hewan-hewan kesayangan peliharaannya saja.

Sampai suatu ketika Dolittle kedatangan tamu tak diundang, seorang laki-laki remaja bernama Stubbins yang datang dengan tergesa-gesa sambil membawa tas kecil yang entah berisi apa.

Ternyata, anak laki-laki tersebut dituntun oleh Poly si burung macaw hingga sampai ke Cagar Alam milik Dolittle. Ada juga seorang remaja perempuan bernama Lady Rose, yang ternyata anak tersebut adalah seorang Putri dari Kerajaan Inggris.

Awalnya Dolittle enggan untuk bertemu, bertegur sapa, bahkan untuk sekedar melihat siapapun. Namun, setelah tamu-tamunya tersebut menjelaskan kebutuhan mereka masing-masing, yang mana Stubbins ingin Dolittle mengobati seekor tupai yang tak sengaja tertembak olehnya, lalu Lady Rose yang meminta Dolittle untuk datang ke istana menyembuhkan sang Ratu yang sedang sakit keras, disitulah Dolittle mulai merubah pikirannya.

Dolittle pun memulai proses penyembuhan si tupai terlebih dahulu. Dengan dibantu teman-teman hewan peliharaannya yang terdiri dari Chee-Chee si Gorila, Poly si Burung Beo, Dab-Dab si Bebek, Yoshi si Beruang Kutub, Betsy si Jerapah baik hati, Dolittle kemudian berhasil mengangkat peluru yang mengenai perut si tupai yang bernama Kevin. Sementara di sisi lain, ada Stubbins dan Lady Rose yang terpana melihat kesibukan Dolittle dalam mengobati tupai tersebut.

Setelah Dolittle menyelesaikan proses penyembuhan Kevin si tupai, Dolittle pun memutuskan untuk pergi ke Istana Kerajaan bersama dengan Lady Rose untuk melihat keadaan sang Ratu yang sedang sakit tersebut.

Stubbins yang semula dilarang oleh Dolittle untuk mengikuti mereka, terpaksa mengendap-ngendap masuk ke dalam kotak yang tertempel di kendaraan kereta kuda milik Lady Rose agar ia tetap bisa mengikuti Dolittle dan berharap bisa menjadi murid Dolittle.

Sesampainya di istana, Dolittle beserta kawan-kawan hewan peliharaannya masuk ke dalam istana dan langsung menuju kamar sang Ratu, lalu Dolittle pun tanpa basa-basi langsung meminta kawannya Jip seekor anjing berkacamata untuk mengendus sang Ratu yang sedang tertidur, untuk memeriksa dan mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya.

Ternyata Dolittle dan kawan-kawan hewan peliharaannya merasa ada yang janggal dari sakitnya sang Ratu. Setelah Dolittle melakukan sedikit perbincangan dengan gurita yang berada di dalam Aquarium di kamar tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari Istana untuk mencari dan membawakan obat yang mujarab bagi sang Ratu yaitu buah Pohon Eden. Akankah Dokter Dolittle bersama dengan kawan-kawannya berhasil melakukan misi penyelamatan ini?

GOOD POINTS DARI REVIEW FILM DOLITTLE

Film apa saja nih yang kalian ketahui yang dimainkan oleh Robert Downey Jr. ? Pastinya ada cukup banyak ya guys, beberapa dari film tersebut yang sangat terkenal dan mendunia adalah Iron Man dan The Avengers Series. Di Review film Dolittle kali ini, sutradara Stephen Gaghan menggaet Downey untuk memerankan Doctor John Dolittle sebagai peran utama di film fantasi petualangan ini.

Dan sudah bisa ditebak, akting yang dimainkan oleh Downey pastinya sangat memiliki ciri khas yang entah itu penggemarnya maupun penonton biasa akan selalu ingat. Peran Downey sebagai seorang dokter hewan yang menyayangi semua binatang namun di dalam hatinya masih terdapat luka masa lalu cukup apik dimainkan oleh sang Iron Man ini. Pilihan yang tepat demi menggaet para penonton.

Alur cerita yang disajikan dari Review film Dolittle ini mengalir dengan cukup sederhana dan mudah dipahami, namun meskipun begitu film ini mampu meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi para penontonnya, terlebih bagi mereka yang pada dasarnya sangat menyukai binatang.

Review Film Dolittle ini mengangkat sentimental mengenai hewan dan segala lika-liku kehidupan mereka, yang mana tidak sedikit dari kehidupan hewan-hewan tersebut yang cukup menyedihkan, sebagaimana adegan-adegan yang ditunjukkan di menit-menit awal Review film Dolittle ini dimana saat Dolittle berkelana ke seluruh penjuru dunia bersama Lily kekasihnya, lalu mereka pun bertemu dengan para hewan yang memiliki kisah hidup yang menyedihkan seperti Chee-Chee yang berada di kandang dalam kurun waktu yang lama maupun Yoshi yang merasa sangat kedinginan di Kutub Utara.

NOT – REALLY GOOD POINTS DARI REVIEW FILM DOLITTLE

Alur cerita yang cukup mengesankan dari Review film Dolittle ini dibungkus dalam durasi film 101 menit, yaitu kurang lebih 1 jam 40 menit. Namun, entah mengapa kami rasa durasi tersebut seperti kurang panjang bagi penonton.

Seharusnya film-film petualangan seperti Review FIlm Dolittle ini bisa diberi durasi yang cukup panjang, seperti 2 jam misalnya. Asalkan dipenuhi dengan cerita-cerita yang seru juga adegan-adegan yang akan disenangi penonton, maka durasi 2 jam dirasa akan mencukupi rasa penasaran para penonton dalam menyaksikan keseruan Downey CS di film yang percakapannya menggunakan aksen bahasa negara United Kingdom ini.

Masih ingat adegan saat Dolittle membeberkan fakta bahwa staf anggota istana-lah yang telah meracuni Ratu Victoria hingga hampir saja sang Ratu tersebut tewas? Yap, staf anggota istana tersebut bernama Lord Thomas Badgley.

Ternyata Lord Thomas memang sudah berniat untuk meracuni Ratu Victoria hingga sang Ratu tewas agar nantinya Lord Thomas dapat menggantikan dan menduduki posisi sang Ratu Inggris tersebut. Di adegan itu pula, Ratu Victoria yang sudah sadar dan pulih dari sakitnya berkat bantuan Dokter Dolittle yang meneteskan sari buah Pohon Eden, hanya menyuruh penjaga untuk memasukkan Lord Thomas ke dalam penjara.

Sepertinya keputusan tersebut terlalu lembek untuk seseorang dengan kasus pembunuhan berencana kepada raja atau ratu yang ada di sebuah Negara, terlebih sang Ratu memang hampir saja tewas dikarenakan ulahnya.

Seharusnya buatkan saja adegan baru untuk peran Lord Thomas tersebut, dimana Lord Thomas dimasukkan ke dalam kandang Barry sang singa yang sedang mengalami depresi, sebagai balasan atas perbuatannya, lalu biarkan ia dan Barry berurusan setelahnya. Cukup mengerikan tapi memiliki efek jera bagi yang lainnya, kan? Agreed.

Ohiya, satu lagi peran yang harusnya dimasukkan ke dalam kandang Barry sang singa nih guys, yaitu peran Dr. Blair Mudfly yang dengan jahatnya sudah berusaha menggagalkan rencana Dolittle untuk menyembuhkan sang Ratu!

Peran Stubbins dan Lady Rose di film ini sudah terlihat sejak awal mulainya Review film Dolittle, dimana mereka berdua sering terlihat bersama serta mendukung satu sama lain. Terlihat jelas bahwa mereka berdua memang saling menyimpan perasaan satu sama lain.

Namun, hingga akhir adegan dari film Dolittle ini, tidak ada adegan yang memperlihatkan bahwa Stubbins dan Lady Rose akan melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang mungkin lebih serius.

Apakah mereka tidak akan bersatu? Penonton sepertinya akan sedikit dibawa gemas dengan kisah mereka berdua, kenapa tidak dibuatkan saja adegan yang memperlihatkan bahwa mereka akan meresmikan hubungan mereka? Hanya saran saja sih, hehe.

Poin berikutnya adalah sebuah bentuk dari rasa penasaran kita terhadap Review film Dolittle ini. Jika hampir seluruh hewan terlihat hadir di film ini, baik hewan yang dipelihara dan tinggal bersama Dolittle maupun hewan-hewan yang berada diluar Cagar Alam, mengapa tidak ada satupun hewan kucing yah di film ini? Padahal, sepertinya kita semua cukup setuju bahwa kucing adalah hewan imut yang umum dan sangat universal untuk dijadikan sebuah icon atau bahkan dijadikan sebuah peran di dalam film (seperti film Garfield misalnya). Kira-kira apa yah alasan dari Stephen Gaghan maupun Thomas Shepherd untuk tidak melibatkan hewan kucing sama sekali di Review film Dolittle ini?

CLOSING…

Itulah bagian akhir dari Review film Dolittle yang telah kita ulas satu per satu ini. Nah, kira-kira bagaimana pendapat kalian tentang poin-poin yang telah kami kumpulkan nih? Apakah ada hal menarik yang kalian dapatkan dari ulasan kita, atau mungkin kalian sendiri yang mendapatkan poin menarik tersebut? Sepertinya seru untuk dibahas bersama yah!

Menurut kita, terdapat beberapa pesan moral yang cukup mendalam dari Review film Dolittle ini. Review Film Dolittle yang mengangkat tema tentang kehidupan para binatang dan pertemanan mereka dengan manusia seakan menyentil kita sebagai manusia di zaman sekarang ini, yaitu seperti apakah kita sudah pernah menolong para hewan-hewan yang membutuhkan pertolongan disekitar kita? Apakah kita sudah memiliki rasa peduli akan kehidupan mereka diluar sana, yang tidak sedikit dari mereka memiliki kehidupan yang menderita akibat ulah perburuan dari manusia? Bukankah hewan juga makhluk hidup, sama seperti kita?

Peraturan perburuan yang ada di dunia juga sepertinya masih terasa longgar dan sangat perlu untuk di perketat demi menjaga kelestarian hewan di habitatnya. Film ini juga sarat akan pesan moral yang mengajarkan kita untuk selalu menjaga sikap dan berbaik hati kepada seluruh makhluk hidup, sebagaimana yang diperankan oleh Dokter John Dolittle. Jika kita bersikap baik dengan tulus kepada sesama makhluk hidup, maka bumi dan seisinya pun akan turut bersikap baik kepada kita. Hal ini mungkin bisa dikatakan sebagai hukum alam yah guys.

Jadi, tunggu apa lagi?! Yuk langsung ditonton aja Review Film Dolittle ini, jangan lupa ajak-ajak teman sepermainan, kerabat, tetangga sebelah, saudara kecil, saudara besar, om, tante, mantan pacar, mantan gebetan, dan semuanya yang bisa kalian ajak pokoknya! Makin ramai nonton filmnya, pasti akan terasa makin seru, kan?

REVIEW FILM PROJECT POWER ! : Segala Kemungkinan Teknologi Yang Bisa Terjadi Di Masa Depan?

Review FIlm

REVIEW FILM PROJECT POWER (2020): Genre Superhero Rasa Sci-Fi , Dan Segala Kemungkinan Teknologi Yang Bisa Terjadi Di Masa Depan – Hallo pembaca yang budiman dan padiman semuanya, apa kabar? Semoga kalian dan kita semua sehat-sehat selalu yah. Di tengah kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang ini, pastinya kita jadi lebih sering berada di rumah yah guys, demi untuk mengurangi kontak dengan orang lain di luar sana. Nah, sementara kita semua menjadi lebih sering berada di rumah, pastinya kita butuh kegiatan-kegiatan positif yang bisa menyenangkan jiwa dan raga, kan? Kita berikan solusi nih untuk kalian, yaitu kalian bisa baca review dari kita lalu nonton film rekomendasi dari kita secara gratissss. Pasti akan seru!

Di kesempatann kali ini kita akan berikan ulasan mengenai review film yang bisa dibilang multi-genre nih, yaitu action, superhero, maupun sci-fi. Berjudul Project Power, film berdurasi 114 menit ini adalah fim yang dibintangi oleh Jamie Fox, Joseph Gordon-Levitt, beserta Dominique Flashback sebagai para pemeran utamanya. Film ini mengangkat tema tentang proyek pengedaran kapsul berbahaya yang diberi nama kapsul Power, dengan tujuan untuk membangun evolusi manusia di kehidupan selanjutnya. Cerita film ini juga identik dengan cerita-cerita film yang mengangkat tema futuristik serta seperti sedikit memberikan gambaran mengenai sisi gelap dari ilmu pengetahuan / science yang jika disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab maka akibatnya akan fatal, bahkan dapat mengancam nyawa banyak manusia.

Disutradarai oleh Henry Joost dan Ariel Schulman, film ini bisa dijadikan film rekomendasi bagi kalian yang menyukai genre action , thriller, sekaligus sci-fi nih! Film Project Power ini juga didistribusikan oleh Netflix, dan digarap oleh rumah produksi Screen Arcade; Supermarche. Nah, langsung aja yuk kita baca ringkasan alur cerita dan juga review yang kita berikan dibawah ini. Check it out, folks!

PLOT SUMMARY REVIEW FILM PROJECT POWER (2020)

Di sebuah pelabuhan, terlihat satu kapal yang sedang bersandar layar lalu kapal tersebut menurunkan beberapa container untuk kemudian dibawa ke kota New Orleans pada pukul 03.00 pagi.

Sesampainya di tempat tujuan, seorang laki-laki paruh baya bernama Biggie, terlihat sedang menjelaskan tentang sebuah produk yang berbentuk kapsul yang diberi nama Power kepada sekumpulan anak muda laki-laki dan perempuan, dan ternyata mereka adalah para pengedar obat-obatan terlarang, yang mana kapsul tersebut mengandung bahan yang bisa menjadi sumber kekuatan super di tubuh tiap pemakainya. Kapsul-kapsul tersebut disimpan dengan rapih di dalam beberapa kotak dan koper, dan diberikan secara cuma-cuma oleh Biggie kepada mereka. Mereka semua terlihat tertarik dengan penjelasan Biggie lalu menerima penawaran tersebut. Salah satu dari sekumpulan pengedar tersebut yang juga terlihat sangat antusias adalah seorang laki-laki bernama Newt yang nantinya akan menjadi pengedar kapsul-kapsul ini.

6 minggu kemudian, 911 mendadak kebanjiran telepon darurat dimana setiap telepon yang diterima selalu saja tentang orang-orang atau korban yg tiba-tiba berjatuhan sehabis minum sebuah kapsul. Para penelepon juga menjelaskan keadaan para korban tersebut, yang mana si korban terlihat menjadi sangat kuat seperti memiliki kekuatan super yang belum diketahui darimana asalnya, sang korban pun tak jarang mengacaukan keadaan sekitar, dan kalaupun korban tersebut terluka, mereka juga tidak akan mengeluarkan darah.

Adalah seorang polisi detektif yang berasal dari NOPD bernama Frank Shaver, yang mengetahui tentang proyek kotor tersebut dan terpaksa membeli kapsul Power untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan efeknya pada tubuh si pemakai, lalu kemudian akan ia gunakan untuk menangkap para pemakai kapsul tersebut yang telah banyaj membuat onar di kota tempat tinggalnya. Frank membeli kapsul itu dari seorang anak remaja berkulit hitam yang masih duduk di bangku sekolah bernama Robin, yang mana anak tersebut ternyata salah satu penjajak kapsul Power juga.

Suatu ketika, terdapat kasus perampokan di sebuah Bank di kota New Orleans, dimana para pihak kepolisian terlihat kewalahan dan tidak berani mendekati pelaku perampokan tersebut. Datanglah Frank dengan niat untuk membantu keadaan. Frank tahu betul bahwa pihaknya tidak akan mampu menangkap pelaku perampokan tersebut dikarenakan pelakunya sedang dibawah pengaruh kapsul Power. Maka Frank-pun memutuskan untuk menggunakan kapsul Power yang telah ia beli dari Robin demi untuk menangkap si pelaku sambil membuktikan sendiri bagaimana efek dari kapsul tersebut.

Pelaku berhasil ditangkap oleh Frank dan diamankan, namun Frank justru ditegur oleh Kapten nya dikarenakan ketahuan mengonsumsi kapsul tersebut, hingga berakhir pada Frank diminta untuk melepaskan lencana dan senjata yang ia miliki. Frank menjelaskan rencana dan alasan mengapa ia mengonsumsi kapsul tersebut, lambat laun sang Kapten mempercayainya lalu memberitahu Frank sebuah rahasia terkait proyek kapsul Power tersebut. Sang kapten juga memberikan foto seorang mayor yang mana mayor tersebut menurut sang kapten terlibat dalam kasus kapsul Power ini.

Mulailah Frank melakukan pencariannya terhadap mayor yang fotonya diberikan kaptennya tersebut, namun rencana dan pencarian Frank ternyata justru menuntunnya menuju kepada temuan yang tidak ia duga sebelumnya, seperti siapa Mayor yang ada di foto itu sebenarnya dan apa tujuannya terlibat dalam proyek kapsul Power tersebut. Dibantu oleh Robin sang “mantan penjajak”, Frank pun memulai kisah dan aksinya yang membawanya kepada inti dari bisnis kapsul tersebut, yakni kehidupan masa lalu sang Mayor yang melibatkan anak perempuannya bernama Tracy.

Project Power
Review FIlm Project Power

GOOD POINTS

Film besutan Henry Joost dan Ariel Schulman berjudul Project Power ini adalah film yang bergenre Superhero, setidaknya begitulah yang tertera di ulasan-ulasan yang ada di internet untuk film ini. Memiliki durasi kurang lebih 2 jam, film ini menyajikan berbagai adegan action dan saling kejar antar warga sipil dan juga pihak polisi, tipikal film action Hollywood pada umumnya. Namun, setujukah kalian bahwa film ini juga sarat akan genre Sci-Fi, dimana hal tersebut terlihat dari adegan-adegan beserta penjelasan-penjelasan mengenai kemampuan kapsul tersebut? Kapsul power yang mampu merubah manusia menjadi monster, memiliki kekuatan super serta memiliki dampak yang mematikan? Sebuah poin awal yang cukup baik dimana hal tersebut dapat memperlihatkan kelihaian sang sutradara dalam membungkus film ini menjadi sebuah tontonan Superhero , Sci – Fi yang epik bagi kita semua.

Jamie Fos yang berperan sebagai Mayor Arthur / Art , Joseph Gordon Levith sebagai Detektif Frank, dan juga Dominique Fishback sebagai Robin, bisa dibilang mereka adalah sebagai Trio super di dalam film Project Power yang rilis baru-baru ini. Koneksi dan chemistry yang mereka mainkan entah mengapa terasa cukup kuat bagi para penonton, layaknya seperti sudah sering beradu akting bersama di film-film lainnya. Chemistry yang mereka sajikan itu berdampak positif pada jalannya alur cerita di film ini.

Poin menarik lainnya terdapat pada fokus pengangkatan cerita dari film ini, yang mana sang sutradara Henry Joost bekerja sama dengan Mattson Tomlin sang penulis naskah untuk mengangkat dan mengembangkan isu moral di Project Power, yaitu terkait dengan penggunaan serta pengedaran obat-obatan terlarang yang terjadi di hampir seluruh penjuru dunia. Seperti sentilan bagi para penguasa di tiap negara bahkan dunia, untuk lebih memperhatikan lagi mengenai betapa masih maraknya pengedaran produk-produk terlarang tersebut. Dan juga kaca pantulan bagi kita, agar kita tidak mudah tergiur dengan godaan-godaan pemakaian produk terlarang seperti itu, demi kelangsungan hidup generasi kita yang selanjutnya.

NOT – REALLY GOOD POINTS

Di film Project Power ini seperti yang sudah kita ketahui bahwa Tracy adalah anak kandung perempuan dari Arthur, yang telah diculik dan disekap oleh Doctor Gardner untuk nantinya dijadikan bahan penelitian dan uji coba kapsul Power temuannya bersama dengan tim. Nah, kira-kira apakah sempat terlintas di dalam pikiran kalian tentang siapa ibu kandung dari Tracy ini? Yang artinya ibu dari Tracy tersebut adalah mungkin istri atau teman dekat wanita Arthur. Kalau memang benar seperti yang dikatakan oleh Arthur bahwa Tracy mewarisi modifikasi genetik yang dulu ia dapatkan sehingga membuatnya menjadi anak yang “berbeda”, maka apakah ibu dari Tracy juga mendapatkan hal yang sama seperti Tracy? Mengapa tidak ada penjelasan yang detail mengenai cerita yang satu ini yah? Kita penasaran sebenarnya, hehe.

Robin di film ini hanyalah seorang remaja yang statusnya masih duduk di bangku sekolah. Namun, dengan alasan kebutuhan ekonomi keluarga, ia menjajal dirinya untuk menjadi penjajak kapsul Power yang sangat berbahaya tersebut. Pertanyaannya adalah, darimana Robin yang notabene masih menjadi murid di sebuah sekolah bisa mendapatkan kapsul Power tersebut? Dilihat dari kemampuan kapsul tersebut, apakah semudah itu untuk mendapatkannya hingga seorang pelajar pun bisa mengaksesnya? Kalaupun Robin mendapatkan kapsul itu dari seorang pengedar, sebutlah dari Newt, sebaiknya berikan 1 adegan saja yang memperlihatkan bahwa Robin sedang bertransaksi kapsul tersebut dengan seorang pengedar, bukan hanya ujug-ujug dia sudah memegang dan menjual kapsul tersebut.

Menjelang akhir dari film ini, terlihat adegan di kapal atas Genesis yang sedang berlayar dimana Arthur, Frank, dan Tracy yang sedang tersudut di salah satu kabin kapal sedangkan jika mereka keluar maka mereka akan ditangkap oleh Doctor Gardner yang sudah menunggu mereka tepat diluar pintu kabin. Sementara, Robin saat itu tertangkap dan berada ditangan anak buah dari Doctor Gardner, sang dokter pun mengancam Arthur untuk mengembalikan Tracy kepadanya agar Robin tetap hidup dan akan segera dikembalikan. Arthur-pun mnegatur rencana yang mana akhirnya Arthur mau tak mau harus keluar menghadapi sang Dokter untuk menyelamatkan Robin. Terjadilah pecakapan singkat diantara mereka yang diakhiri dengan ledakan dahsyat yang berasal dari tubuh Arthur yang ternyata memakan kapsul Power terakhir yang ia punya. Di adegan ini, sebenarnya akan menjadi sangat dramatis dan mungkin akan membekas di ingatan para penonton jika saja terdapat percakapan-percakapan dramatis yang terjadi diantara Arthur dan Doctor Gardner, mengenai masa lalu Arthur yang sudah dijadikan subjek pertama uji coba modifikasi genetika. Namun, sepertinya sang sutradara menginginkan sebuah klimaks yang cepat juga ringkas, sehingga ditiadakannya percakapan tambahan itu yang mungkin bisa saja akan menjadi penutup yang manis diantara perang Arthur dan sang Dokter.

Review Film
Project Power

CLOSING…

Itulah review film dari kami untuk film Project Power ini, film action yang sedikit menyerempet ke Sci-Fi jugayang mengusung tema serta isu moral yaitu pengedaran kapsul terlarang dan kerja sama kotor antara tenaga medis (Doctor Gardner) dan para mafia-mafia bisnis. Film ini meskipun memiliki beberapa poin bagus dari segi hal review-nya, namun tetap saja seperti karya-karya pada umumnya yaitu pasti selalu ada hal yang kurang di mata para penonton dan hal tersebut selalu menarik untuk diulas. Kalau menurut kalian, apa saja nih poin-poin kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dari film ini?

Dan juga untuk pesan moral dari film ini sepertinya seru untuk didiskusikan nih, guys. Memang sudah sepantasnya kita tidak tergoda untuk mencoba barang-barang, obat-obatan, maupun produk-produk terlarang, kalau tidak mau berakhir seperti yang terlihat di adegan-adegan film ini. Selain pastinya akan berurusan dengan pihak berwajib, menggunakan produk-produk terlarang seperti itu hanya akan menyusahkan diri kita sendiri, dan juga orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan bisa membunuh kita secara perlahan. Lagipula, masih banyak kegiatan-kegiatan positif yang dapat kita lakukan dan kembangkan bersama, contohnya seperti mengembangkan skill yang kita punya untuk kemudian dipublikasikan ke khalayak ramai agar mendapatkan benefit popularitas maupun benefit keuangan. Atau jika memang memiliki jiwa bisnis seperti Biggie di film ini (kalau Biggie punya jiwa bisnis di bidang yang kotor yah guys, hehe) , kalian bisa langsung susun strategi serta rencanakan produk apa yang bermanfaat untuk seluruh orang yang bisa kita tawarkan. Lebih bermanfaat dan minim masalah kan, guys?

Bagi kalian yang mungkin sudah nonton Project Power, boleh banget nih baca review film dari kita untuk film ini, setelah dibaca boleh kalian share ke teman-teman kalian, atau kalian jadikan bahan diskusi di tengah obrolan santai kalian dirumah sambil menyeruput kopi atau teh manis kalian. Daripada mendiskusikan hal-hal yang tidak pasti, lebih baik mendiskusikan review film dari kita kan? Hehe. Jadi gak usah pikir panjang lagi, langsung saja kalian tonton filmnya terlebih dahulu, lalu baca ringkasan cerita dan review dari kita untuk film Project Power ini. Semoga dengan membaca review film dari kita ini dapat mengisi waktu luang kalian yah.